Link Sponsor

Meniru Kreatif

Selasa, 29 April 2008      0 komentar

Hampir semua penulis adalah peniru yang kreatif. Tidak ada sesungguhnya karya yang orisinil. Penulis meniru dari semua yang dilihatnya, didengarnya, dan dirasakannya. Kemudian melalui proses kristalisasi pemikiran maka keluarlah sebuah ide yang akan dijadikan tulisan.

Tidak mungkin seorang penulis tanpa pernah membaca tulisan orang lain. Bukankah dengan membaca maka apa yang dibaca akan terekam dalam benak kita kemudian menjadi sumber inspirasi untuk ditulis. Tidak mungkin seorang penulis tidak pernah mendengar pemikiran-pemikiran orang lain. Bukankah mendengar juga bisa dijadikan sumber inspirasi.

Proses meniru kreatif tidak bisa disebut plagiat karena tentu saja kita tidak mentah-mentah meng-copy paste tulisan orang lain. Kita tahu banyak sekali buku tentang menulis. Mulai dari Mengarang Itu Gampang (Arswendo Atmowiloto-1982), kemudian muncul Menulis Skenario Itu Gampang (Gola Gong-1997), Agar Menulis-Mengarang Itu Gampang (Andrias Harefa-2002), Menulis Artikel Itu Gampang (Nurudin-2002).

Bukankah buku yang ditulis para penulis ketiga terakhir itu adalah sebuah proses meniru kreatif. Dibaca dari judulnya saja tentu kita bisa tahu bahwa ada proses meniru secara kreatif yang dilakukan oleh ketiga penulis tersebut.

Ada komentar?



Gilang Perkasa

Sebentar lagi akan meluncurkan website

indonesia-NET.com

situsnya orang indonesia


p.s.: Siapa pun yang ingin mempromosikan buku karyanya dipersilahkan kirim email ke gilang.perkasa@yahoo.com

(untuk produk buku - promosi gratis).


keluh kesah penulis

Senin, 28 April 2008      0 komentar

Kalau kita mungkin baru bisa menulis apa yang ada dalam benak kita. Kita belum bisa menulis – tentang tulisan apa yang dibutuhkan oleh pasar pembaca. Jadi menulis itu tidak gampang. Jadi penulis itu tidak mudah. Dan terlebih membuat tulisan yang berkwalitas dan laku di pasaran juga sangat tidak gampang. Tetapi kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih bisa menulis. Kita bersyukur tulisan kita masih ada yang baca walaupun tidak banyak. Perlahan kita sama-sama meningkatkan kwalitas tulisan kita. Melaui millis ini, melalui diskusi, dan saling berbagi koreksi terhadap tulisan kita masing-masing.

Soal waktu, juga sangat menjenuhkan harus menunggu beberapa bulan untuk sekedar menunggu konfirmasi diterbitkan atau tidaknya naskah yang kita kirim ke penerbit. Dalam tenggang waktu itu, buat penulis pemula yang tidak sabar ingin segera melihat naskahnya menjadi sebuah buku. Konsentrasi akan tidak terfokus untuk menulis kembali. Hari-harinya hanya diisi dengan sebuah penantian yang tak pasti. Mungkin akan menjadi bara api penyemangat untuk menulis kembali bila naskahnya bisa diterbitkan, tetapi kebanyakan penulis pemula – naskahnya ditolak.

Hal itu baru sekedar keluh kesah seputar naskah. Belum lagi bicara penghasilan seorang penulis yang tidak menjanjikan sebagai profesi yang punya masa depan cerah. Walau pun ada beberapa penulis yang menikmati hasil tulisannya dalam jumlah materi yang luar biasa dalam satu naskah buku saja. Kita tahu semua siapa saja penulis itu. Mereka yang memiliki tulisan berkwalitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar (pembaca).

Mari kita berhitung sejenak seberapa besar penghasilan dari menulis. Misalnya;

Dengan royalti yang berkisar sekitar 10%, jumlah buku yang dicetak 5.000 eksamplar. Dengan harga jual eceran Rp. 30.000. Maka atas sebuah naskah yang diterbitkan kita akan menerima royalti sebesar Rp. 15.000.000 (sebelum dipotong Pajak Penghasilan).

Persoalannya adalah:

  1. berapa lama kita akan menerima uang sejumlah itu?
  2. Berapa kali uang itu bisa kita terima?
  3. Sesuaikah royalti yang kita terima secara berkala dengan hasil jumlah jamleh penjualan buku yang dilaporkan toko buku/distributor pada penerbit?
  4. Benarkah buku yang dicetak sesuai dengan pemberitahuan penerbit pada penulis?
  5. Seberapa besar posisi tawar penulis bila berhadapan dengan penerbit?

Ayo kita bangkit!

Jangan resah menanti sebuah ketidak pastian!

Ingat lagu Indonesia Raya!

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya!

self publishing

Minggu, 27 April 2008      0 komentar

Setelah menulis naskah tentu kita ingin segera menerbitkannya menjadi sebuah buku. Persoalannya untuk penulis pemula tidak mudah menembus penerbitan umum. Oleh karena itu sebagai alternative maka menerbitkan sendiri atau dengan istilah self publishing keinginan itu dapat dicapai. Sebetulnya bila kita menulis naskah yang memiliki pangsa pasar yang jelas maka menerbitkan sendiri memiliki banyak keuntungan baik dari segi materi mau pun segi lainnya. Kita bisa memahami seluk-beluk penerbitan dan juga dituntut untuk mampu menjadi seorang writerpreneur, atau penulis yang memiliki jiwa entrepreneur.

Untuk itulah buku ini ditulis sebagai referensi bagi penulis pemula mau pun para kaum professional di bidang masing-masing yang ingin menuliskan pemikiran-pemikirannya. Bagi penulis pemula yang sulit untuk mencari penerbit yang mau menerbitkan naskahnya, maka alternative menerbitkan sendiri naskahnya adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh. Karena belum tentu yang ditolak penerbit adalah anskah yang tidak bermutu. Banyak contoh naskah yang ditolak penerbit yang sudah mapan, ketika diterbitkan oleh penerbit kecil atau diterbitkan secara self publishing ternyata meledak di pasaran.

Buku yang laris di pasaran memang tidak menjadi ukuran kwalitas pembahasannya. Tetapi buku yang laris di pasaran akan menjadi pembangkit motivasi diri bagi penulisnya untuk terus berkarya. Maka dari itu kita harus tetap memelihara semangat manakala naskah ditolak penerbit, masih banyak jalan agar naskah bisa diterbitkan.

Belajar Menulis di Internet

Internet sekarang tidak saja sebagai media untuk mencari informasi. Tetapi juga bisa dijadikan sebagai media untuk belajar menulis. Melalui blog atau weblog yang kita buat, kita bisa jadikan sebagai sarana untuk memulai belajar menulis. Melalui tulisan pada blog kita dapat mengetahui respon pembaca terhadap tulisan yang disajikan pada weblog kita. Bila kita belajar menulis tanpa dipublikasikan maka siapa yang akan tahu bahwa tulisan kita bermutu atau tidak. Oleh karena itu blog merupakan alternatif terbaik yang bisa dijadikan sebagai media publikasi atas hasil karya kita dalam proses belajar menulis. Bisa dengan blogspot, wordpress, multiply, dan masih banyak lagi yang menyediakan blog.

Tentu saja blog akan dibaca oleh orang lain yang berkunjung. Terlebih bila tujuan kita nge-blog adalah sebagai sarana untuk belajar menulis. Kita bisa tahu ketertarikan orang lain atas tulisan pada blog yang dibuat. Oleh karena itu maka dalam blog tersebut sediakan kotak komentar atas tulisan tersebut. Bila orang lain merasa tertarik maka sudah saatnya anda menulis sebuah naskah untuk diterbitkan menjadi buku. Selain itu pula maka tidak ada salahnya bila anda membuat tulisan dalam blog maka dalam benak anda kumpulan tulisan tersebut kelak bila sudah banyak akan dijadikan sebuah buku. Bukankah ini menjadi proses pembelajaran yang sangat menarik.

Selain pada blog anda juga bisa belajar menulis melalui mailing list (milis) contohnya penulis_indonesia@yahoogroups.com. Anda bisa berdiskusi dengan teman-teman peminat, penulis pemula, dan penulis senior di milis tersebut. Anda juga bisa menuangkan tulisan pada milis tersebut yang tentu saja akan direspon oleh anggota milis lainnya.

Tulis Apa Saja

Belajar menulis tidak gampang. Membutuhkan kemauan yang kuat dalam diri kita untuk bisa menulis. Untuk penulis yang baru memulai debutnya dalam bidang kepenulisan maka sebaiknya belajar dengan cara membuat buku harian. Tulis apa yang ada dalam benakmu. Tulis apa saja yang mau kita tulis. Tentang diri kita, teman kita, orang tua kita, kakak dan adik kita, saudara kita, atau lingkungan kita.

Dalam beberapa dekade tulisan demi tulisan yang kita buat dalam buku harian. Tentu saja akan memiliki perbedaan baik secara kwantitas mau pun kwalitas tulisan. Terkadang menjadi lebih baik, dan tidak jarang pula akan menjadi lebih buruk. Tergantung dari mood untuk menulis. Bahkan bisa saja suatu waktu akan kehilangan gairah untuk menulis buku harian. Hal ini wajar dan sering terjadi pada penulis senior atau yang sudah profesional sekali pun.

Oleh karena itu maka ketika kita sedang nikmat atau dalam kondisi mood untuk menulis. Jangan berhenti menulis. Biarkan saja tulisan itu mengalir pada buku harian karena memang menulis sangat membutuhkan suatu kesempatan mood. Mencari mood sangat sulit. Mood bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Bisa saja mood datang pada tengah malam ketika kita sulit untuk memejamkan mata. Bahkan bisa saja datang pada saat kita sedang dalam perjalanan.

Bila ingin menjadi penulis kita harus menyiapkan peralatan menulis ke manapun kita pergi. Tulis apa yang anda lihat. Tulis apa yang anda rasakan. Tulis apa yang anda dengar. Tulis apa yang anda akan bicarakan. Tulis apa yang anda pikirkan.

Mengasah Keterampilan Menulis

Mengasah keterampilan menulis harus dilakukan secara terus-menerus. Memang untuk sementara ini bagi sebagian besar penulis di Indonesia, profesi ini kurang menjanjikan dalam persoalan materi. Itu karena yang ada dalam benak, maunya kita menulis satu buah naskah buku langsung bisa menjadi kaya. Ada memang yang seperti itu, tetapi tidak banyak contohnya. Kang Abik penulis novel Ayat-ayat Cinta, dan Tung Desum Waringin penulis buku Financial Revolution di antara mereka yang sukses menjalankan profesi sebagai penulis. Mereka mendapatkan uang ratusan juta rupiah bahkan lebih dari satu milyar kelak hanya menulis satu buah naskah buku. Karena buku mereka laris di pasaran atau dengan kata lain best-seller. Ratusan ribu copy terjual buku mereka.

Menjadi penulis itu tidak gampang. Belajar menulis tidak cukup satu atau dua tahun. Hal ini pun tergantung dari diri kita masing-masing. Rata-rata penulis di Indonesia diperkirakan mampu membuat tulisan berjenis buku setelah usianya sekitar 30 tahunan ke atas. Ada memang yang di bawah usia itu tetapi juga tidak banyak. Proses pembelajaran untuk menulis membutuhkan ketelatenan dan kesinambungan. Jangan hanya puas setelah tulisannya dimuat media massa atau bukunya pernah diterbitkan sekali saja oleh penerbit. Karena menulis itu sendiri adalah proses belajar.

Pada usia ke 26 tulisan saya dalam bentuk resensi pertama kali dimuat di harian Kompas pada tahun 1996. Saya bangga. Tetapi karena keterbatasan dan kesibukan bekerja pada jalur lain rekam jejak langkah saya dalam bidang kepenulisan berhenti. Keterampilan pun menjadi tumpul dalam dunia tulis-menulis. Harusnya saat itu tidak berhenti walau pun sesibuk apa pun. Nyatanya berhenti total. Setelah beberapa tahun kemudian keinginan untuk menulis muncul dalam diri saya. Maka dalam waktu luang bekerja saya mencoba untuk menulis di harian lokal. Setelah merasa jenuh bekerja, saya pernah menekuni bidang jurnalistik beberapa bulan saja. Sehingga keakraban dalam bidang tulis-menulis sedikit banyak terasah kembali.